Kartarla | Paciran – Pesantren dinilai bukan sekadar entitas historis semata, melainkan sebuah infrastruktur sosial peradaban yang strategis bagi masa depan bangsa.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Karang Taruna Kabupaten Lamongan, Achmad Ilham Zubairi, M.I.Kom., saat hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Talk Show bertajuk “Peranan Strategis Alumni dan Pesantren dalam Membangun Masyarakat yang Aman, Damai, dan Harmonis” yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Alumni Tarbiyatut Tholabah (IKBAL TABAH) di Aula YPP Tabah, Jumat (30/10/2026).
Di hadapan para peserta, Achmad Ilham Zubairi yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah menyampaikan bahwa dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama.
Baca Juga : Karang Taruna Lamongan Komitmen Kawal Pemberantasan Rokok Ilegal, Siap Jadi Benteng Pengawasan hingga Desa
Ia menekankan bahwa alumni pesantren harus mengambil peran sebagai simpul moderasi, sementara Karang Taruna bergerak sebagai simpul aksi nyata di akar rumput.
“Pesantren bukan entitas historis semata, tetapi infrastruktur sosial strategis masa depan. Alumni adalah simpul moderasi, Karang Taruna adalah simpul aksi, dan generasi muda harus menjadi subjek, bukan objek,” tegas Ilham dalam pemaparannya.
Dalam pemaparannya, Ilham menguraikan bahwa makna masyarakat yang aman, damai, dan harmonis saat ini tidak diukur dari ketiadaan perbedaan, melainkan bagaimana suatu komunitas mengelola dinamika sosial secara konstruktif.
Baca Juga : Momentum Sumpah Pemuda, Kartar Lamongan dan Himaprodi KPI UNITABAH Dorong Produktivitas Digital Mahasiswa
Ia membagi tatanan tersebut ke dalam tiga tingkat esensial, Aman: Berarti masyarakat bebas dari rasa takut baik dari ancaman kekerasan fisik, intimidasi, paparan hoaks, maupun rasa takut dalam menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, Damai: Berarti setiap potensi konflik tidak diselesaikan melalui jalur kekerasan, melainkan dikedepankan lewat ruang dialog, musyawarah, penegakan hukum, serta adab.
Serta harmonis, berarti masyarakat memiliki kapasitas mengelola keragaman secara konstruktif untuk merajut persatuan, bukan justru membiarkan perbedaan menjadi pemicu perpecahan.
Menurutnya, tantangan kebangsaan saat ini tidak hanya berkutat pada potensi gesekan fisik, tetapi juga tekanan kritis nasional seperti residu polarisasi politik, banjir informasi hoaks di ruang digital, serta potensi keretakan relasi antarkelompok.
Baca Juga : Galakkan Hidup Sehat, Karang Taruna Dusun Keduwul Sukodadi Rutin Gelar Senam Bersama Setiap Minggu
Lamongan sendiri dinilai telah membuktikan keberhasilannya dalam merawat keharmonisan sosial berbasis ekosistem kultural. Berdasarkan data empiris, Indeks Keharmonisan (IHal) Lamongan berada di angka 7,60 (peringkat 2 di Jawa Timur), Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) mencapai 80,11, tingkat toleransi di angka 90,75, serta indeks solidaritas sosial menembus 90,86.

Capaian ini ditopang oleh sinergi kuat antara regulasi daerah (seperti Perda No. 6 Tahun 2021 tentang Fasilitasi Pesantren), peran aktif Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), dukungan Pemkab Lamongan, serta warisan nilai luhur Sunan Drajat.
Transformasi Peran Pesantren dan Kekuatan Jaringan AlumniLebih lanjut, Ilham menyoroti bahwa peran strategis pesantren tidak bisa berjalan otomatis hanya mengandalkan reputasi historis masa lalu. Pesantren harus terus memperkuat mutu keilmuan, adab, tata kelola internal, serta literasi digital para santrinya.
Baca Juga : Perkuat Perlindungan Pekerja BPU, BPJS Ketenagakerjaan Ajak Karang Taruna Lamongan Jadi Agen Perisai
Dengan skala nasional yang mencatat puluhan ribu pesantren dan jutaan santri di Indonesia, pesantren memiliki modal sosial yang luar biasa kuat. Di era digital saat ini, para santri dan alumni didorong untuk bertransformasi menjadi agen pembersih informasi—berperan sebagai klarifikator hoaks (klarifikator) sekaligus penyejuk algoritma di ruang media sosial.
Potensi besar para alumni yang tersebar di berbagai profesi (mulai dari dunia pendidikan, birokrasi pemerintahan, aparat penegak hukum, sektor kesehatan, teknologi, hingga dunia usaha) juga harus disatukan melalui wadah kolaborasi tematik yang terstruktur.
“Alumni harus diubah dari sekadar ‘kumpulan orang yang pernah mondok’ menjadi ‘jaringan profesional yang bergerak bersama untuk masyarakat’,” tambahnya.
Baca Juga : Peringati Bulan Bakti, RS Mata KMU dan Karang Taruna Lamongan Gelar Baksos Pemeriksaan Mata Gratis
Sinergi Nyata Alumni dan Karang TarunaSebagai langkah konkret, kolaborasi antara jaringan alumni pesantren dan Karang Taruna dapat diwujudkan melalui aksi nyata di tingkat desa, seperti pembentukan inisiatif bersama literasi digital, pendampingan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta kampanye penangkalan berita bohong (hoaks).
Melalui sinergi yang solid, pemuda tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan, melainkan motor penggerak perubahan (agents of change) yang aktif menjaga stabilitas sosial, merawat toleransi, serta membangun peradaban bangsa dari ruang lokal hingga tingkat nasional.

