Kartarla | Lamongan – Memaknai Hari Kartini di era modern bukan lagi sekadar merayakan kebebasan mengenyam pendidikan, melainkan tentang bagaimana perempuan mampu menjaga integritas pola pikir di tengah derasnya arus informasi.
Hal ini ditegaskan oleh Saadatul Abbadiyah, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Karang Taruna Kabupaten Lamongan, dalam refleksinya menyambut Hari Kartini tahun ini.
Perempuan kelahiran 18 Februari 1998 asal Babat ini melihat bahwa tantangan perempuan masa kini jauh lebih kompleks dibandingkan era perjuangan RA Kartini. Sebagai seorang wirausaha muda, perempuan yang akrab disapa Saada ini menyoroti fenomena sosial media yang kini sering kali menjadi standar “kesempurnaan” yang semu bagi kaum hawa.
“Perempuan saat ini banyak menjadikan media sosial sebagai patokan hidup, sehingga kita seakan terkotak-kotak. Akibatnya, kita menjadi tidak bebas karena merasa terbebani stigma harus terlihat sempurna sesuai apa yang tampil di layar ponsel,” ungkap Saada.
Menurutnya, emansipasi di masa kini telah mengalami pergeseran makna. Jika dulu perempuan dianggap sukses hanya dengan berpendidikan tinggi atau menjadi istri yang penurut, kini tuntutan zaman memaksa perempuan untuk lebih dari sekadar urusan domestik. Perempuan masa kini dituntut untuk mampu menganalisis, menyaring informasi, dan tidak terbawa arus negatif kemajuan teknologi.
Melalui jabatannya di Karang Taruna Kabupaten Lamongan, Saada berkomitmen untuk terus menyuarakan hak-hak perempuan di berbagai lini. Ia menekankan bahwa kemerdekaan perempuan mencakup hak untuk berbudaya, berpolitik, dan yang terpenting adalah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
“Sebagai ketua Bidang PPPA ini adalah alat untuk merangkul perempuan di Lamongan. Bukan hanya soal pendidikan, tapi bagaimana kita memiliki hak yang sama untuk menentukan masa depan, baik itu di panggung politik maupun ekonomi,” tambahnya.
Mengingat latar belakang masyarakat Lamongan yang mayoritas merupakan petani dan nelayan, Saada menaruh harapan besar agar perempuan di Lamongan bisa menjadi role model yang nyata di lingkungannya. Ia ingin emansipasi tidak hanya tampil secara visual di media sosial, tetapi dibarengi dengan kematangan pola pikir dan olah rasa.
“Harapan saya untuk perempuan di Lamongan, jadilah inspirasi yang tidak hanya ‘terkenal’ di layar kaca atau media sosial. Mari kita barengi dengan pengetahuan dan kemampuan berpikir yang matang. Emansipasi sejati adalah saat perempuan mampu membawa dampak nyata bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya,” pungkasnya.

