KARTARLA | Kalitengah – Komitmen pemuda dalam menggerakkan roda perekonomian berbasis sektor pertanian modern dan ketahanan pangan nasional ditunjukkan secara nyata di Kabupaten Lamongan.
Memanfaatkan momentum pertanian berbasis teknologi, destinasi agro “De Kuluran Green Estate” yang berlokasi di Desa Kuluran, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, resmi membuka wisata petik melon premium untuk umum.
Langkah taktis ini tidak sekadar menjadi ajang bisnis musiman, melainkan sebuah manifestasi program ketahanan pangan mandiri yang dipelopori langsung oleh kolaborasi pemuda desa.
Baca Juga : Srikandi Pengurus Karang Taruna Lamongan Unjuk Gigi, Produk UMKM Ansa Tikar Tembus Pasar Ekspor
Keberhasilan proyek agrowisata ini digawangi oleh Yudha, yang memegang peran ganda strategis sebagai Ketua BUMDes Kuluran sekaligus Ketua Karang Taruna Desa Kuluran.
Melalui keterpaduan kepemimpinan tersebut, potensi pemuda dioptimalkan untuk menyulap sektor pertanian menjadi sumber pendapatan desa yang bernilai tinggi sekaligus memperkuat kedaulatan pangan dari tingkat desa.
Pada musim panen kedua ini, De Kuluran Green Estate membudidayakan tiga varietas melon premium pilihan, yakni Sweet Lavender, Sweet Net 9, dan The Blues. Total sebanyak 1.008 pohon melon ditanam di atas lahan greenhouse berukuran 12 x 30 meter dengan luas total 360 meter persegi.
Menariknya, sistem budidaya yang diterapkan menggunakan teknik perkebunan bedengan (gulutan) terukur, di mana setiap satu pohon hanya difokuskan untuk membuahkan satu buah terbaik demi menjaga asupan nutrisi gizi yang maksimal dan bebas dari obat-obatan kimia.
Ketua BUMDes sekaligus Ketua Karang Taruna Desa Kuluran, Yudha, menceritakan garis perjuangannya sejak awal dalam merintis usaha ini. Setelah mendapatkan amanah mengelola BUMDes, dirinya sengaja merangkul para pengurus Karang Taruna yang aktif agar energi kepemudaan dapat dikonversi menjadi produktivitas ekonomi yang menghasilkan nilai keuntungan.
“Kita pengurus BUMDes, khususnya saya Yudha, adalah merangkap jabatan sebelumnya yakni ketua kartar dua periode, dan mendapatkan amanah baru dari warga menjadi Ketua BUMDes Kuluran yang notabene berhubungan dengan putaran uang,” ujar Yudha yang juga merupakan pengurus Karang Taruna Kabupaten.
Baca Juga : Ramadhan Berkah, Karang Taruna Kuluran Gelar Pasar Murah Bersubsidi Bagi Warga Desa
Anggota BUMDes juga dipilih dari pengurus kartar yang aktif, hal tersebut memiliki alasan karena lebih produktif dan bisa menghasilkan cuan.
“Kemudian kami gelar raker, darisana kami mendapatkan ide membuat greenhouse melon yang kita namai Green Estate De Kuluran dengan visi misi menghasilkan melon premium yang penuh dengan gizi maksimal karena tanpa ada obat-obatan penyakit. Alhamdulillah sudah dua kali ini panen dan tanggapan masyarakat sangat luar biasa,” kata Yudha panjang lebar mengenai kilas balik pembentukan usaha.
Hingga waktu panen akhirnya timbul ide untuk menjual hasil tanam dengan metode wisata petik buah melon dan berhasil menarik antusias dari wisatawan yang luar biasa.
Melalui durasi tanam selama 65 hingga 70 hari setelah tanam, pihak pengelola menargetkan akumulasi total hasil panen kali ini mampu menyentuh angka rata-rata di kisaran 2 ton. Untuk varietas Sweet Lavender dan The Blues, bobot per buah berhasil menembus angka di atas 3 kilogram, sedangkan varietas Sweet Net 9 yang berkarakteristik lebih kecil mampu menembus bobot 1,8 hingga 2 kilogram.
Dengan kualitas buah premium tersebut, komoditas ini dipasarkan dengan harga Rp24.000 per kilogram, yang sengaja dipatok di bawah harga pasaran luar yang berkisar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Dengan kalkulasi harga jual tersebut, omzet kotor yang dibidik mampu mencapai angka Rp48 juta per periode panen. Keuntungan tersebut sebagian dialokasikan untuk misi sosial kemasyarakatan.
“Bisnis ini sebenarnya luar biasa, dulu kami takut terkait pemasaran, tapi makin kesini relasi kita sangat bagus bahkan sampai kita menembus pasar internasional ekspor ke Jepang, dan tahun selanjutnya kami butuh stok lebih dari 12 ton untuk pasokan melonnya,” ungkap Yudha.
Meskipun pembuatan greenhouse memiliki biaya yang lumayan mahal, dimana untuk bahan besi holo bisa mencapai 500 ribu per meter persegi, tapi dianggap lebih awet dan tahan lama.
Keberhasilan para pemuda Desa Kuluran dalam mengintegrasikan teknologi greenhouse dan konsep ketahanan pangan berbasis pemuda desa ini mendapat apresiasi setinggi-tingginya dari jajaran pengurus daerah.
Hadir secara langsung di lokasi kebun untuk ikut serta melakukan petik melon premium, Ketua Karang Taruna Kabupaten Lamongan, Achmad Ilham Zubairi, memberikan dukungan moril dan mengacungkan jempol atas inovasi taktis tersebut.
“Apa yang dilakukan oleh rekan-rekan Karang Taruna di Desa Kuluran ini adalah contoh nyata dan konkret bagaimana pemuda hari ini harus mengambil peran di garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah,” ujar Achmad Ilham Zubairi di sela-sela aktivitas memetik buah melon premium.
Menurut pria yang akrab disapa Ilham ini, langkah BUMDes yang diisi oleh kader-kader Karang Taruna merupakan sebuah percontohan nasional yang sangat ideal dalam memutus ketergantungan pangan sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi pasca-pandemi.
“Kombinasi antara jabatan ketua BUMDes dan ketua Karang Taruna membuktikan bahwa birokrasi pemuda di tingkat desa bisa berjalan sangat taktis dan menghasilkan nilai ekonomi riil. Mengubah ketakutan pasar menjadi komoditas ekspor hingga ke Jepang adalah pencapaian luar biasa. Karang Taruna Kabupaten akan terus mendukung penuh standarisasi dan perluasan jaringan greenhouse seperti ini agar pemuda di desa-desa lain di Lamongan terstimulasi untuk melahirkan inovasi serupa yang berdampak langsung bagi kemakmuran warga,” tegas Achmad Ilham Zubairi.
Baca Juga : Siap Berkolaborasi Bangun Desa, Pengurus Karang Taruna Media Karya Sedayulawas Resmi Dikukuhkan
Dengan dukungan penuh dari tingkat kabupaten serta tingginya antusiasme kunjungan para wisatawan dari berbagai wilayah, De Kuluran Green Estate kini tidak hanya berdiri sebagai ikon baru agrowisata edukatif di Lamongan, namun menjadi bukti sah bahwa tangan dingin para pemuda mampu membawa produk lokal menembus kancah internasional sekaligus mengamankan kedaulatan pangan dari akar rumput.

